Sunday, March 22, 2015

karya tanpa suara

Pagi pukul 04:00

Seorang penulis yang karyanya sedang digemari di kalangan kutu buku penyuka kata-kata indah sedang menatap langit fajar di atas bukit hijau. Angin berhembus mencoba menerobos masuk melewati jaket kulit hitamnya. Pandangannya bergrliya mencari inspirasi dan kata-kata untuk karya selanjutnya. Ia terkejut saat menemukan 1 kelompok orang - terdiri dari 2 pria dan 1 wanita- yang sedang berjogging di bawah bukit sebelum mentari menyapa.

Penulis itu menghampiri seraya memanggi kelompok itu. Namun dari 3 orang tersebut hanya satu orang yang menoleh dan memberi tahu kedua temannya untuk berhenti dengan menepuknya dari belakang. Penulis berusaha mendekati mereka disaat salah satu dari mereka memberikan pertanyaan kepada temannya yang memberhentikan mereka dengan gerakan tangan dan ekspresi muka bingung. Orang yang ditanya itu membalas dengan gerakan tangan berbeda seraya menunjuk si penulis. Penulis tersebut memandangi gerakan tangan,ekspresi muka, dan lirikan mata ketiga orang tersebut.

"hai.. saya Ahdi.. boleh ikut Jogging?" Sapa si penulis kepada kelompok tersebut dengan senyuman manis dan ramah.

2 orang dari kelompok tersebut memperhatikan gerakan bibir si penulis seakan-akan berusaha menerjemahkan kata-kata yang keluar dari mulutnya penulis. Satu orang lainnya menjawab sapaan dan memperkenalkan diri dan teman-temannya lalu kembali menggunakan gerakan tangannya kepada teman-temannya seakan menerjemahkan kata-kata si penulis dengan gerakan tersebut.

2 orang itu kemudian menjulurkan tangannya dan berjabat tangan, tanda seseorang berkenalan, seraya mempersilakan penulis berolahraga bersama mengelilingi bukit itu tanpa ada rasa curiga akan bahaya orang yang baru kenalan.

Si penulis masih belum memahami makna gerakan tangan yang telah mereka lakukan sebelumnya namun ia menikmati olahraga bersama dengan orang-orang baru itu.

Sudah 30 menit mereka berolahraga bersama sebelum mereka memutuskan istirahat dan meminum air mineral yang mereka bawa. Si penulis yang baru bergabung tak lupa ditawarkan untuk minum. Pada momen seperti ini si penulis bertanya kepada mereka dan dari pembicaraan itu si penulis akhirnya mengerti untuk apa gerakan-gerakan tadi. Ya... itu bahasa isyarat untuk kedua orang yang mengalami tunarungu sejak kecil yang menyebabkan mereka sekaligus menjadi tunawicara.

Disaat seperti itu penulis berpikir karyanya tak perlu sekedar kata-kata indah membentuk imajinasi bagi pembacanya. Cukup dengan membawa pembacanya memasuki dunia baru yang tak ada suara. Menyadarkan mereka betapa indahnya nikmat pendengaran dan berbicara. Maka sepantasnya kita menjaga apa saja yang kita dengar dan apa saja yang kita ucapkan.

No comments:

Post a Comment