Monday, March 30, 2015

Yang tak terucapkan

Belasan tahun lalu...

Pertemuan pertama kau dan aku. Saling memandang sebagai insan yang baru bertemu. Kau ulurkan tanganmu yang membuyarkan lamunanku saat tersihir pesonamu.

"hai... gue Nita anak psikologi 2011." kata-kata pertama yang aku dengar keluar darimu.
"hai ta... gue Adi anak Akuntansi 2011." balasku seraya menyambut uluran tanganmu.

Pagi itu perkuliahan yang kupikir akan kelabu karena kelas gabungan yang banyak mahasiswa itu dengan dosen yang sudah sepuh dan sedikit membosankan, ternyata berubah menjadi lebih berwarna karena Nita duduk disisiku. Mata kuliah dengan 6 SKS berlangsung selama 3 jam itu tak terasa sudah berlalu dengan tugas kelompok yang seru. Ya, sangat seru karena Nita satu kelompok denganku.

Kita hanya bisa bertemu hanya pada mata kuliah itu. Ingin rasanya aku lebih intens bertemu. Entah kenapa aku menjadi rindu. Nita orang yang sangat perhatian, dia bisa lebih memperhatikan orang lain daripada dirinya sendiri. Terkadang aku merasa dia sering memperhatikanku, memperhatikan bagaimana cara makanku, gaya bicaraku, raut wajahku dan dia selalu komen tentangku. Tapi hal itu gak dilakukan terhadapku saja. Dia perhatian ke semua teman-temannya.

Kadang aku cemburu, tapi aku bisa memaklumi itu, toh dia bukan siapa-siapa untukku pada waktu itu dan aku pun bukan siapa-siapa untuknya. Namun perasaan ini terus tumbuh, ingin rasanya mengungkapkan padanya. Sempat terlintas di akhir perkuliahan nanti aku akan menyatakan perasaan ini. Tapi aku tak punya keberanian melakukan hal itu sebab dia pernah cerita kepadaku selama kuliah ini akan fokus untuk kuliah dan dia sangat senang bersahabat denganku. Rasanya aku takut merusak persahabatan ini dengan mengungkapkan perasaanku. Sejak saat itu perasaan ini ku pendam.

Satu semester berlalu...

Aku dan Nita jarang bertemu. Sesekali kami sempat bertemu hanya sekadar menyapa saja. karena gedung jurusan kami terpisahkan sebuah danau besar dan arah pulang kami pun berbeda. Namun satu dua kali kita janjian bertemu untuk sekadar bercerita tentang perkuliahan atau persoalan kehidupan. Aku merasa sangat nyaman bercerita kepadanya. Begitu pula Nita, dia lebih merasa nyaman denganku, mungkin karena itu juga aku tidak berani mengungkapkan perasaanku. Dia sudah nyaman dengan aku sebagai sahabatnya, tapi mungkin saja tidak jika sebagai aku yang menjadi orang yang menyukainya. Aku takut mendengar jawaban "kita jadi teman aja ya di" namun akhirnya berjauhan karena risih dan berusaha menjaga perasaan. Lebih baik dekat seperti ini. Layaknya sahabat yang saling mendukung dan mengingatkan.

Kondisi tersebut bertahan sampai akhir semester perkuliahan. Saat itu aku memberanikan diri untuk mengungkapkan langsung padanya. Aku juga bercerita soal perasaanku pada kawanku, David. Nampaknya david sudah mengatakan kepada Nita soal perasaanku. Entah seperti apa david mengatakannya, tapi disaat wisuda Nita tidak menemuiku. Aku berusaha mencarinya untuk mengungkapkannya langsung namun hanya pesan SMS yang kudapat darinya.

"Selamat Wisuda ya di, Maaf gue langsung ke bandara, gue lanjut S2 di South Wales, keluarga gue pindah ke sana karena bokap pindah kerja di sana, sorry gak cerita langsung ke lo. Nanti gue kabarin lagi kalau udah sampai sana"

Itu adalah pesan terakhir yang aku dapat darinya. Ku pikir dia sengaja menghindariku dan tidak mau menghubungi ku lagi. Ternyata aku salah sangka. Berita hilangnya pesawat yang dia dan keluarganya tumpangi membuatku merasa bersalah telah berpikir bahwa dia menghindar dariku. Rasanya aku lebih baik menerima kenyataan jika dia menghindariku saja dibanding kenyataan kehilangannya saat aku tak dapat mengungkapkan perasaan.

Selamat jalan Nit. Selamat menempuh hidup baru. Semoga kau bahagia disana.
Love you...

Sunday, March 22, 2015

karya tanpa suara

Pagi pukul 04:00

Seorang penulis yang karyanya sedang digemari di kalangan kutu buku penyuka kata-kata indah sedang menatap langit fajar di atas bukit hijau. Angin berhembus mencoba menerobos masuk melewati jaket kulit hitamnya. Pandangannya bergrliya mencari inspirasi dan kata-kata untuk karya selanjutnya. Ia terkejut saat menemukan 1 kelompok orang - terdiri dari 2 pria dan 1 wanita- yang sedang berjogging di bawah bukit sebelum mentari menyapa.

Penulis itu menghampiri seraya memanggi kelompok itu. Namun dari 3 orang tersebut hanya satu orang yang menoleh dan memberi tahu kedua temannya untuk berhenti dengan menepuknya dari belakang. Penulis berusaha mendekati mereka disaat salah satu dari mereka memberikan pertanyaan kepada temannya yang memberhentikan mereka dengan gerakan tangan dan ekspresi muka bingung. Orang yang ditanya itu membalas dengan gerakan tangan berbeda seraya menunjuk si penulis. Penulis tersebut memandangi gerakan tangan,ekspresi muka, dan lirikan mata ketiga orang tersebut.

"hai.. saya Ahdi.. boleh ikut Jogging?" Sapa si penulis kepada kelompok tersebut dengan senyuman manis dan ramah.

2 orang dari kelompok tersebut memperhatikan gerakan bibir si penulis seakan-akan berusaha menerjemahkan kata-kata yang keluar dari mulutnya penulis. Satu orang lainnya menjawab sapaan dan memperkenalkan diri dan teman-temannya lalu kembali menggunakan gerakan tangannya kepada teman-temannya seakan menerjemahkan kata-kata si penulis dengan gerakan tersebut.

2 orang itu kemudian menjulurkan tangannya dan berjabat tangan, tanda seseorang berkenalan, seraya mempersilakan penulis berolahraga bersama mengelilingi bukit itu tanpa ada rasa curiga akan bahaya orang yang baru kenalan.

Si penulis masih belum memahami makna gerakan tangan yang telah mereka lakukan sebelumnya namun ia menikmati olahraga bersama dengan orang-orang baru itu.

Sudah 30 menit mereka berolahraga bersama sebelum mereka memutuskan istirahat dan meminum air mineral yang mereka bawa. Si penulis yang baru bergabung tak lupa ditawarkan untuk minum. Pada momen seperti ini si penulis bertanya kepada mereka dan dari pembicaraan itu si penulis akhirnya mengerti untuk apa gerakan-gerakan tadi. Ya... itu bahasa isyarat untuk kedua orang yang mengalami tunarungu sejak kecil yang menyebabkan mereka sekaligus menjadi tunawicara.

Disaat seperti itu penulis berpikir karyanya tak perlu sekedar kata-kata indah membentuk imajinasi bagi pembacanya. Cukup dengan membawa pembacanya memasuki dunia baru yang tak ada suara. Menyadarkan mereka betapa indahnya nikmat pendengaran dan berbicara. Maka sepantasnya kita menjaga apa saja yang kita dengar dan apa saja yang kita ucapkan.