Aku kini sampai di suatu zaman..
Yang manusianya sulit
membedakan..
Antara kebenaran dan
kebatilan..
Apakah mereka sudah tak
punya pedoman?
Segala sesuatu kini menjadi
abu-abu
Hitam dan Putih seakan
menyatu
Coba tanyakan pada hatimu..
Apakah ia juga tak tau perbedaan
itu?
...............................
Untaian kata-kata di atas
merupakan gambaran pikiranku saat ini. Teringat masa laluku di saat orang
berani menegur orang melakukan kesalahan dengan baik. Contoh saja bila guru mu
merokok di sekolah dan punya tattoo, sebagai murid kita bisa menegur dan
mengingatkan guru tersebut atau teman-teman gurunya bisa menasihati guru
tersebut. Namun di zaman kini bila guru itu merokok lalu kita coba menasihati
atau mengkritik, kita akan disalahkan oleh lingkungan. Mereka bilang guru itu
lebih hebat, dia telah membuat banyak siswanya lulus sekolah, punya prestasi
lah sebagai guru, masa gara-gara merokok kau menilai dia buruk? Biarkanlah sikap
pribadinya menjadi urusannya, itu bukan urusanmu. Lagi pula apa ngaruhnya dia
ngerokok atau nggak sama hidup mu?
Seringkah anda mendapat respons
seperti itu di zaman ini?
Bukannya aku mau menggurui, tapi sosok-sosok yang jadi panutan, baik pemimpin negeri, pemimpin instansi, pemimpin sekolah, guru atau pemimpin keluarga sekalipun akan menjadi contoh bagi generasi selanjutnya. Bayangkan ketika satu hal yang salah kita biarkan. Dengan sendirinya generasi selanjutnya akan berpikiran bahwa kesalahan itu hal yang wajar. Maka wajar di Indonesia ditemukan Balita yang bisa merokok lebih dari 1 bungkus tiap harinya.
Bukannya aku mau menggurui, tapi sosok-sosok yang jadi panutan, baik pemimpin negeri, pemimpin instansi, pemimpin sekolah, guru atau pemimpin keluarga sekalipun akan menjadi contoh bagi generasi selanjutnya. Bayangkan ketika satu hal yang salah kita biarkan. Dengan sendirinya generasi selanjutnya akan berpikiran bahwa kesalahan itu hal yang wajar. Maka wajar di Indonesia ditemukan Balita yang bisa merokok lebih dari 1 bungkus tiap harinya.
Itu baru hal dari merokok.
Mungkin nanti ciuman,pelukan, bahkan berbikini menjadi hal yang dianggap wajar
oleh generasi berikutnya. Coba tanyakan sekali lagi pada hatimu, apakah engkau
ingin melahirkan suatu generasi yang seperti itu? Saat mereka tak bisa
membedakan salah dan benar semua hal salah bisa dianggap benar dan begitu
sebaliknya.