Kini tiba aku menatap langit senjaku..
Ku sadari kisahku bersamamu sudah di penghujung waktu..
Karena sepertinya aku bukan masa depanmu...
Kini aku bak mentari senja..
perlahan-lahan terbenam dengan keindahan..
mengubah langit biru menjadi langit kemerahan..
dan perlahan menghilang.. bergantian dengan bulan
Pagi tadi adalah masa lalu
Malam nanti adalah masa depanmu
Senja ini waktu kita yang akan berlalu
Mungkinkah mentari sepertiku ada di malammu?
Andai satu jam berlalu dalam puisiku..
Sama seperti satu tahun berlalu dalam kehidupanku..
Maka 10 jam yang lalu adalah awal kita bertemu..
Dari terbitku pukul 6 pagi sampai sekarang pukul 16 di senjamu
Pada awal kita bertemu sinarku menghangatkan harimu..
Dan di siang hari kau menjauh karena terik panasku..
Lalu kini kita mendekat lagi di kala senja yang sendu..
Kini waktuku hanya tinggal 1-2 jam lagi tuk menemanimu..
Aku akan menunggu bulan menjemputmu, menemani malammu.
Kau tak akan dapat melihatku di malammu
Jadi izinkan aku melihatmu untuk terakhir kalinya di senjamu..
Jangan kau kejar aku ke bagian barat itu..
Kecepatan mu tidak secepat perubahan waktu..
semua akan berlalu.. dan aku telah memberi restu
padamu dan bulan yang memantulkan sinarku..
Jangan kau pikir aku meninggalkanmu..
Aku masih memberikanmu sinar kasih sayangku..
Melewati bulanmu itu.. sinarku memantul dari situ...
Jika kau rindu pada sinarku, maka tataplah bulanmu..
Jangan pula kau pikir untuk menunggu hari ini berlalu..
karena satu hari itu adalah kehidupanmu..
esok hari adalah kehidupan yang baru...
Sampai jumpa di kehidupan yang lain, masa lalu..
Jika kau tanya dengan siapa aku nanti..
Mungkin kau sudah tau mentari akan selalu sendiri...
Aku mentari yang akan menyinari insan di bumi..
Aku mentari... yang akan selalu menanti...
Menanti hal yang tak terganti..
Menanti dirimu mengisi ruang di hati ini kembali..
Menanti hidup bersama sang pujaan hati..