Selamat
datang dan selamat membaca para pembaca
Kali ini aku hadir kembali dalam blog ini, dengan buah
pikir yang sempat terlintas dalam pikiran. Tulisan ini tidak bermaksud untuk
menjelek-jelekan suatu entitas atau memandang rendah suatu golongan.
Hanya saja ada baiknya jika tulisan ini menjadi pembelajaran bagi para pembaca
sekalian.
Sore itu, tanggal 9 November 2013, aku mengendarai motor Supra
X berwarna biru milik ayahku menuju tempat aku akan mengajar bahasa inggris
pada malam hari. Ada satu kejadian yang menjadi sorotanku pada perjalan
tersebut dan menjadi alasanku menulis blog pada hari ini. Di sebuah perempatan
menuju DTC Depok dekat dengan perumahan Maharaja, aku melihat dari sebrang
(jalan grogol) ada seorang anak muda,mungkin masih SMP atau SMA, mengendarai
motor tanpa memakai helm dan berhenti di perempatan karena ingin melewati
perempatan tersebut menuju jalan pitara. Tanpa disadari oleh si pemuda itu,
ternyata ada seorang oknum polisi yang sudah mengincarnya dan akan siap-siap
menilang. Tiba-tiba si pemuda merasa kaget ketika pak polisi tersebut memegang
pegangan besi belakang motornya dan menarik ke belakang.
“zzzrrrtttt...” bunyi gesekan ban dengan aspal saat si
pemuda berusaha melawan dengan menarik gas motornya karena takut ditilang dan
segera melesatkan motornya yang tiba-tiba menerobos kerumunan dan memotong
jalan seenaknya. Teman oknum polisi lainnya yang melihat kejadian itu senyam
senyum saja ketika melihat kawannya gagal mendapat mangsa. Namun tidak sampai
tiga detik tiba-tiba motor itu terjatuh dan si pemuda terluka. Aku berusaha
menolong pemuda tersebut tapi ternyata pemuda tersebut mampu berdiri sendiri
dan langsung kabur. Di lain sisi, polisi-polisi yang menakuti pemuda tadi itu
tidak bergerak menolongnya, malah menertawainya ketika terjatuh dengan wajah tanpa
merasa bersalah. Aku teringat slogan di kantor polisi yang biasanya tertulis “melindungi
dan melayani masyarakat”, sepertinya tulisan ini hanya slogan belaka.
Aku pernah mendengar stigma tentang kelakuan minus
polisi-polisi ini, namun aku berusaha meyakini bahwa itu hanya perilaku
beberapa oknum saja. Selang waktu berlalu aku sering menanyakan kepercayaanku
pada polisi, jika iya hanya beberapa oknum, lantas ada berapa oknum itu? Berapa
banyak oknum itu yang sanggup membuat stigma yang negatif? Lebih banyak mana
oknum polisi yang negatif atau oknum polisi yang positif? Jika iya hanya
beberapa oknum yang negatif, lantas kenapa semua orang sepertinya ketemu dengan
oknum-oknum yang negatif ini?
Ibaratnya air jernih di tetesi tinta, jika tintanya sedikit
mungkin masih terlihat jernihnya, tapi kalau banyak dan makin kental, dari luar
orang akan melihat itu bukan air jernih lagi bahkan bisa dikatakan tidak ada
air jernih yang tersisa. Lantas pertanyaannya kemana air jernih itu? Apakah membaur
atau mereka berusaha keluar dengan berubah menjadi uap dan mencari tempat yang
lain yang masih jernih? Air jernih tidak akan mampu mebuat tinta menjadi
jernih, apalagi jika sendiri. Maka dari itu air jernih ini perlu berkumpul agar
bisa orang di luar masih bisa melihat kejernihannya.
Coba kita tanya pada masyarakat “polisi yang nilang atau
yang razia ketertiban lalu lintas itu demi kenyamanan masyarakat atau sekadar cuma
cari uang?”. Bukan berarti aku tidak melihat polisi yang jujur yang bertugas
demi lalu lintas yang tertib dan nyaman, tapi di daerah Jakarta Selatan dan
Depok yang biasa aku lalui, aku lebih sering melihat polisi yang mementingkan “kejar
setoran” seperti menghabiskan surat tilang dengan memberhentikan kendaraan
motor yang sering melanggar.
Hukum yang seharusnya memberi efek jera ternyata malah
dimanfaatkan menjadi pemasukan gelap oknum tersebut sehingga timbul lah slogan “damai
itu indah, indah karena ada uangnya”. Tidak hanya itu saja, urusan administrasi
di kepolisian pun sama. Stigma “ada uang urusan jadi lancar”. Pembuatan SIM
contohnya, memang bagus sih seleksi sangat ketat, tapi bukan berarti dijadikan
kesempatan mencari uang dari peserta yang gak bisa lulus. Hal ini tidak terjadi
di kepolisian saja di instansi lain pun seperti itu.
Lantas solusinya apa?
Yang jelas hilangkan dulu stigma negatif itu dengan bukti
yang nyata. Berikan para polisi kepercayaan dari masyarakat dan apresiasi dari
negara. Sebab ada polisi yang pernah berinteraksi denganku merasa bahwa
kerjanya sebagai polisi tidak dihargai orang. Entah masyarakat sudah menjadi
orang jahat yang takut kepada polisi atau masyarakat yang takut sama penjahat
yang berkedok polisi. Harapannya semoga polisi di negara kita menjadi lebih
baik dari sisi kinerja dan mampu merubah stigma negatif menjadi lebih postif
kembali.
Azka Ahdi
11 November 2013
No comments:
Post a Comment