Monday, November 11, 2013

oknum,stigma atau fakta?


Selamat datang dan selamat membaca para pembaca

Kali ini aku hadir kembali dalam blog ini, dengan buah pikir yang sempat terlintas dalam pikiran. Tulisan ini tidak bermaksud untuk menjelek-jelekan suatu entitas atau memandang rendah suatu golongan. Hanya saja ada baiknya jika tulisan ini menjadi pembelajaran bagi para pembaca sekalian.

Sore itu, tanggal 9 November 2013, aku mengendarai motor Supra X berwarna biru milik ayahku menuju tempat aku akan mengajar bahasa inggris pada malam hari. Ada satu kejadian yang menjadi sorotanku pada perjalan tersebut dan menjadi alasanku menulis blog pada hari ini. Di sebuah perempatan menuju DTC Depok dekat dengan perumahan Maharaja, aku melihat dari sebrang (jalan grogol) ada seorang anak muda,mungkin masih SMP atau SMA, mengendarai motor tanpa memakai helm dan berhenti di perempatan karena ingin melewati perempatan tersebut menuju jalan pitara. Tanpa disadari oleh si pemuda itu, ternyata ada seorang oknum polisi yang sudah mengincarnya dan akan siap-siap menilang. Tiba-tiba si pemuda merasa kaget ketika pak polisi tersebut memegang pegangan besi belakang motornya dan menarik ke belakang.

“zzzrrrtttt...” bunyi gesekan ban dengan aspal saat si pemuda berusaha melawan dengan menarik gas motornya karena takut ditilang dan segera melesatkan motornya yang tiba-tiba menerobos kerumunan dan memotong jalan seenaknya. Teman oknum polisi lainnya yang melihat kejadian itu senyam senyum saja ketika melihat kawannya gagal mendapat mangsa. Namun tidak sampai tiga detik tiba-tiba motor itu terjatuh dan si pemuda terluka. Aku berusaha menolong pemuda tersebut tapi ternyata pemuda tersebut mampu berdiri sendiri dan langsung kabur. Di lain sisi, polisi-polisi yang menakuti pemuda tadi itu tidak bergerak menolongnya, malah menertawainya ketika terjatuh dengan wajah tanpa merasa bersalah. Aku teringat slogan di kantor polisi yang biasanya tertulis “melindungi dan melayani masyarakat”, sepertinya tulisan ini hanya slogan belaka.

Aku pernah mendengar stigma tentang kelakuan minus polisi-polisi ini, namun aku berusaha meyakini bahwa itu hanya perilaku beberapa oknum saja. Selang waktu berlalu aku sering menanyakan kepercayaanku pada polisi, jika iya hanya beberapa oknum, lantas ada berapa oknum itu? Berapa banyak oknum itu yang sanggup membuat stigma yang negatif? Lebih banyak mana oknum polisi yang negatif atau oknum polisi yang positif? Jika iya hanya beberapa oknum yang negatif, lantas kenapa semua orang sepertinya ketemu dengan oknum-oknum yang negatif ini?

Ibaratnya air jernih di tetesi tinta, jika tintanya sedikit mungkin masih terlihat jernihnya, tapi kalau banyak dan makin kental, dari luar orang akan melihat itu bukan air jernih lagi bahkan bisa dikatakan tidak ada air jernih yang tersisa. Lantas pertanyaannya kemana air jernih itu? Apakah membaur atau mereka berusaha keluar dengan berubah menjadi uap dan mencari tempat yang lain yang masih jernih? Air jernih tidak akan mampu mebuat tinta menjadi jernih, apalagi jika sendiri. Maka dari itu air jernih ini perlu berkumpul agar bisa orang di luar masih bisa melihat kejernihannya.

Coba kita tanya pada masyarakat “polisi yang nilang atau yang razia ketertiban lalu lintas itu demi kenyamanan masyarakat atau sekadar cuma cari uang?”. Bukan berarti aku tidak melihat polisi yang jujur yang bertugas demi lalu lintas yang tertib dan nyaman, tapi di daerah Jakarta Selatan dan Depok yang biasa aku lalui, aku lebih sering melihat polisi yang mementingkan “kejar setoran” seperti menghabiskan surat tilang dengan memberhentikan kendaraan motor yang sering melanggar.

Hukum yang seharusnya memberi efek jera ternyata malah dimanfaatkan menjadi pemasukan gelap oknum tersebut sehingga timbul lah slogan “damai itu indah, indah karena ada uangnya”. Tidak hanya itu saja, urusan administrasi di kepolisian pun sama. Stigma “ada uang urusan jadi lancar”. Pembuatan SIM contohnya, memang bagus sih seleksi sangat ketat, tapi bukan berarti dijadikan kesempatan mencari uang dari peserta yang gak bisa lulus. Hal ini tidak terjadi di kepolisian saja di instansi lain pun seperti itu.

Lantas solusinya apa?

Yang jelas hilangkan dulu stigma negatif itu dengan bukti yang nyata. Berikan para polisi kepercayaan dari masyarakat dan apresiasi dari negara. Sebab ada polisi yang pernah berinteraksi denganku merasa bahwa kerjanya sebagai polisi tidak dihargai orang. Entah masyarakat sudah menjadi orang jahat yang takut kepada polisi atau masyarakat yang takut sama penjahat yang berkedok polisi. Harapannya semoga polisi di negara kita menjadi lebih baik dari sisi kinerja dan mampu merubah stigma negatif menjadi lebih postif kembali.
Azka Ahdi
11 November 2013

No comments:

Post a Comment