Aku sudah lama tidak bercerita kembali mengenai kaum serangga disini. Seperti cerita ini Komentar Sang Serangga, Komentar Sang Serangga 2 dan Komentar Sang Serangga 3, aku ingin berbagi kisahku agar dapat memberikan manfaat bagi manusia yang mampu menjaga keseimbangan ekosistem lingkungan hidup untuk semua makhluk hidup...
Bismillahirrahmanirrahim
"Dialah
Allah Yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah
membentangkannya di langit menurut yang dikehendakiNya, dan menjadikannya
bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat air hujan keluar dari celah-celahnya; maka,
apabila hujan itu turun mengenai hamba-hambaNya yang dikehendakiNya, tiba-tiba
mereka menjadi gembira" (Al Qur'an, 30:48)
Ku awali ceritaku dengan melantunkan satu ayat firman Allah SWT. Dalam ayat tersebut menjelaskan fenomena terjadinya hujan yang seharusnya membuat semua hamba-hambaNya bahagia. Kadang aku berpikir jikalau ada yang tidak bahagia dengan turunnya hujan, apakah mereka itu pantas dipanggil sebagai hambaNya? Aku sendiri tak tahu apa jawabnya, biarlah manusia yang berpikir tentang hal itu.
Salah satu kota yang pernah ku singgahi yang dikenal sebagai Kota Jakarta, mengalami hujan sejak dinihari Kamis, 17 Januari 2013. Hujan ini memang tidak deras namun berlangsung sangat lama sehingga mentari yang biasanya menyinari kota itu tak terlihat memberi kehangatan sejak pagi hari itu. Ya benar.. semua terlihat gelap akibat langit yang mendung seperti kota yang ada dalam cerita sekuel 'Twilight'.
Seandainya kota itu memiliki drainase yang bagus, maka air yang turun banyak itu dapat sangat berguna untuk kehidupan makhluk hidup lainnya. Drainase itu sebuah sistem saluran air baik yang ada di atas permukaan tanah maupun yang ada di bawah permukaan tanah. Para manusia mungkin lebih fokus tentang saluran air di atas permukaan yang penuh dengan sampah itu yang menyebabkan air mengenang di jalan akibat tersumbatnya saluran itu oleh sampah.
Lalu bagaimana dengan saluran air yang berada di bawah permukaan tanah? atau bagaimana dengan sistem resapan air ke dalam tanah? Sedikit manusia yang memikirkan dan beraksi untuk mempertahankan atau mengadakan saluran air di bawah tanah ini. Padahal yang membutuhkan air itu tidak hanya makhluk-makhluk yang hidup di atas permukaan tanah tetapi juga beberapa kaum ku yang tinggal di permukaan bawah tanah. Mereka juga butuh sistem drainase di dalam tanah agar rumah-rumahnya tidak terendam dengan air.
Manusia di atas permukaan tanah mungkin tak pernah memikirkan rasanya hidup di bawah tanah dengan drainase yang buruk. Jangankan untuk berpikiran seperti itu, memikirkan bahwa ada kehidupan kami di bawah tanah pun tidak. Kini aku ingin kalian, para manusia renungkan, makhluk hidup di bawah tanah selain membutuhkan air tentu memerlukan oksigen untuk kehidupannya bukan? Darimana oksigen itu di dapat? pasti ada celah-celah dari permukaan tanah sehingga oksigen dapat masuk ke dalam tanah, atau dari akar-akar beberapa tanaman.
Tahukah kalian bagaiamana rasanya hidup di dalam tanah dengan kebutuhan air dan angin yang melewati jalur yang sama? Kondisinya sama saja seperti manusia yang berada dalam ruangan tertutup rapat dan udara hanya berasal dari Air Conditioner (AC) Kemudian AC itu tidak mengeluarkan udara lagi tetapi hanya air yang deras yang akan menenggelamkan dan membunuh kalian. Jika seperti itu kami harus menggali dinding dan lantai rumah kami agar tidak tenggelam. Kecepatan kami menggali jalan keluar dengan debit air yang memasuki rumah kami menjadi sebuah tantangan untuk menyelamatkan diri namun bukan itu masalahnya.. masalahnya kami tidak dapat bernafas di dalam tanah akibat saluran-saluran udara itu terisi dengan air. Selain itu, kami bingung kemana kami harus menggali jalur ketika air turun dari atas ke bawah, tidak mungkin kami menggali ke atas, Menggali ke bawah pun sama saja, bahkan airnya semakin cepat turun dan udara menipis. kami tak menemukan akar-akar tumbuhan yang dapat memberikan oksigen kepada kami.
Aku tak mau menyalahkan manusia karena telah menghilangkan daerah-daerah resapan air, menebang pohon-pohon yang kami perlukan dan menyebabkan banjir ini terjadi. Ini pembelajaran bagi kita semua.
Oke.. cukup sekian dulu ya kawan-kawan.. Kun harus segera membantu kawan-kawan Kun yang sedang mengalami kebanjiran juga seperti kalian. sampai jumpa di kisah ku selanjutnya ya.. :)
Lalu bagaimana dengan saluran air yang berada di bawah permukaan tanah? atau bagaimana dengan sistem resapan air ke dalam tanah? Sedikit manusia yang memikirkan dan beraksi untuk mempertahankan atau mengadakan saluran air di bawah tanah ini. Padahal yang membutuhkan air itu tidak hanya makhluk-makhluk yang hidup di atas permukaan tanah tetapi juga beberapa kaum ku yang tinggal di permukaan bawah tanah. Mereka juga butuh sistem drainase di dalam tanah agar rumah-rumahnya tidak terendam dengan air.
Manusia di atas permukaan tanah mungkin tak pernah memikirkan rasanya hidup di bawah tanah dengan drainase yang buruk. Jangankan untuk berpikiran seperti itu, memikirkan bahwa ada kehidupan kami di bawah tanah pun tidak. Kini aku ingin kalian, para manusia renungkan, makhluk hidup di bawah tanah selain membutuhkan air tentu memerlukan oksigen untuk kehidupannya bukan? Darimana oksigen itu di dapat? pasti ada celah-celah dari permukaan tanah sehingga oksigen dapat masuk ke dalam tanah, atau dari akar-akar beberapa tanaman.
Tahukah kalian bagaiamana rasanya hidup di dalam tanah dengan kebutuhan air dan angin yang melewati jalur yang sama? Kondisinya sama saja seperti manusia yang berada dalam ruangan tertutup rapat dan udara hanya berasal dari Air Conditioner (AC) Kemudian AC itu tidak mengeluarkan udara lagi tetapi hanya air yang deras yang akan menenggelamkan dan membunuh kalian. Jika seperti itu kami harus menggali dinding dan lantai rumah kami agar tidak tenggelam. Kecepatan kami menggali jalan keluar dengan debit air yang memasuki rumah kami menjadi sebuah tantangan untuk menyelamatkan diri namun bukan itu masalahnya.. masalahnya kami tidak dapat bernafas di dalam tanah akibat saluran-saluran udara itu terisi dengan air. Selain itu, kami bingung kemana kami harus menggali jalur ketika air turun dari atas ke bawah, tidak mungkin kami menggali ke atas, Menggali ke bawah pun sama saja, bahkan airnya semakin cepat turun dan udara menipis. kami tak menemukan akar-akar tumbuhan yang dapat memberikan oksigen kepada kami.
Aku tak mau menyalahkan manusia karena telah menghilangkan daerah-daerah resapan air, menebang pohon-pohon yang kami perlukan dan menyebabkan banjir ini terjadi. Ini pembelajaran bagi kita semua.
Oke.. cukup sekian dulu ya kawan-kawan.. Kun harus segera membantu kawan-kawan Kun yang sedang mengalami kebanjiran juga seperti kalian. sampai jumpa di kisah ku selanjutnya ya.. :)

No comments:
Post a Comment